Rabu, 27 Mei 2009

tANgGApAn nArKoBa dI kAlAnGAn mAsYaRkAt....


REMAJA paling rentan narkoba. Ini buktinya:

  • Pengguna narkoba terbesar ada di kelompok usia 15-24 tahun (BNN, 2004). Menurut penelitian Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB, 2002), kelompok usia terbesar anak bereksperimen narkoba pertama kalinya adalah 12-17 tahun.
  • Dari wawancara kualitatif yang dilakukan terhadap 672 pecandu yang dirawat di panti rehabilitasi di Jawa menyatakan bahwa usia 13-15 tahun adalah masa yang paling kritis bagi mereka untuk memulai memakai narkoba (YCAB, 2001).
  • Dari 3,6 juta pecandu di Indonesia (hampir sekitar 1-1,5% penduduk), ada rata-rata 15 ribu orang meninggal akibat narkoba setiap tahunnya (BNN, 2005). Sebagian besar yang meninggal adalah kaum muda di bawah 30 tahun.
Padahal, masa remaja, kata orang, adalah masa terindah. Seharusnya demikian bagi remaja dari golongan mampu karena tidak perlu stres memikirkan pekerjaan lain selain belajar dan pertemanan. Tapi kenyataannya, bagi remaja itu sendiri, sekolah pun terkadang menjadi hal yang tidak menyenangkan, malah sering kali terpaksa dilakukan.

Ketidakstabilan emosi membawa depresi tersendiri bagi remaja. Apalagi, ketidaksinkronan persepsi dan harapan antara remaja dan orang tua yang mulai memuncak di masa ini sering mendatangkan sejumlah masalah dan ketegangan dalam keluarga.
Siapa memetik keuntungan dari itu semua? Bandar.

Masa transisi berisiko tinggi
Dari tahun ke tahun, data cukup konsisten menunjukkan bahwa kaum remaja adalah kelompok pangsa pasar terbesar bandar narkoba.

Dominasi pelanggan remaja menjanjikan bandar pasar yang cukup atraktif; menjanjikan pasar baru setiap hari karena proses pemasaran ala member-get-member di kalangan teman sebaya. Bagi pelanggan yang sudah kecanduan, menjanjikan ‘kesetiaan’ membeli. Bagi yang baru coba-coba, mereka setidaknya berharap diberikan sampel gratis.

Semua itu dimungkinkan berbagai faktor; mulai dari karakteristik biologis, psikologis, lingkungan sosial, dan budaya yang terjadi di masa remaja.

Dari sisi biologis, masa pubertas yang dialami remaja cenderung membawa dampak psikologis (mood, pencarian jati diri, dan lainlain), di samping dampak fisiologis (perubahan dalam tubuh dan pertumbuhan organ seksual).

Masa transisi yang terjadi di kala anak masuk ke jenjang SMP juga dipercayai banyak ahli sebagai masa paling kritis dalam hidup anak. Di jenjang itulah, anak mendapatkan banyak tantangan baru dalam hidupnya, tuntutan akademik, teman baru dan mungkin lingkungan sekolah baru.

Kedua hal itu dapat menyebabkan berubahnya karakter dasar dan sikap remaja, dari yang tadinya 'anak manis' menjadi individu yang berbeda dan tidak dapat diprediksi. Ada yang menjadi supermandiri seakan tidak perlu pendapat orang lain. Ada yang menjadi sangat tergantung pada teman. Tentu ada pula yang tumbuh menjadi individu yang mantap dan dewasa.

Dalam perjalanan hidup anak, di masa remaja inilah mereka mulai dihadapkan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang dapat menimbulkan berbagai tekanan. Menurut data konseling nasional di Amerika Serikat, seperti yang tertulis dalam buklet Parents: The Anti Drug (2004), remaja mengakui tekanan terbesar yang mereka hadapi sehari-hari adalah tekanan sosial untuk mencoba rokok, alkohol atau narkoba.

Tekanan sosial itu melebihi tekanan pergaulan atau kekerasan dalam keluarga yang mereka hadapi.

Data di beberapa kota besar di Indonesia pun menemukan hal yang serupa. Sayangnya, kita belum memiliki survei nasional dalam konteks ini.

Sumber kerentanan remaja
Transisi seorang anak menjadi dewasa membawa dinamika tertentu. Di masa transisi itu, para ahli seperti yang dikutip dalam World Drug Report (UNDCP, 1997) mencatat empat tujuan dasar remaja untuk mencoba-coba atau menggunakan narkoba, yakni:

  • Untuk memenuhi keinginan akan sesuatu hal yang baru, seru, dan berisiko.
  • Untuk menstimulasi rasa tertentu (termasuk memuaskan rasa penasaran, ingin merasakan sesuatu yang mengubah kesadaran, dan lain-lain).
  • Untuk memfasilitasi 'kesetiakawanan' atau memberi 'arti sosial' tertentu ('jagoan', 'kompak', cool, dan lain-lain) dari sebuah hubungan pertemanan dengan kelompok tertentu. Hal itu dikenal pula dengan istilah peer pressure atau tekanan sebaya.
  • Untuk mengatasi atau melupakan masalah atau perasaan.
Des Jarlais (1997), peneliti yang dikutip dalam berbagai literatur yang dikeluarkan PBB, menemukan bahwa semakin muda seorang anak mencoba narkoba, rokok atau minuman keras, akan semakin tinggi pula kemungkinan ia untuk menjadi pecandu.

'Karier' dalam menggunakan zat adiktif (rokok, miras, dan narkoba) akan cenderung meningkat dan sangat sulit untuk berhenti.

Data pecandu di 12 kota besar Indonesia (YCAB, 2001) menunjukkan bahwa sebagian besar pecandu memulai 'karier' mereka dengan merokok di usia antara 9-11 tahun. Bahkan, sebagian besar pecandu narkoba mengakui mencoba narkoba ketika mereka berusia di bawah 15 tahun.

Mengambil risiko itu seru!
Menurut Plant et al (1997), keberanian untuk mengambil risiko di kalangan remaja adalah hal yang lumrah. Hal itu merupakan salah satu cara seorang remaja untuk menemui identitas dan kemerdekaan diri serta untuk menjadi mandiri. Mengambil risiko juga dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan 'tiket' untuk diterima kelompok tertentu.

Jelaslah bahwa persepsi remaja tentang risiko dan risiko itu sendiri sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda. Ada remaja yang sering mengambil keputusan tanpa memperhitungkan dengan baik risiko atau konsekuensinya.

Sebaliknya, ada remaja yang karena tidak memiliki sense of risk menjadi cenderung bertindak semaunya karena risiko tidak berarti apa-apa bagi mereka.

Banyak remaja mengaku melakukan hal yang berisiko tinggi karena jika berhasil dilakukan, hal itu akan mendatangkan sensasi rasa high dan akan mengundang decak kagum teman-teman mereka. Remaja cenderung berpikir pendek untuk mulai melakukan hal yang mengandung risiko mulai dari melakukan olahraga ekstrem seperti terjun payung, memanjat tebing, sky diving, atau kebut-kebutan sampai mencoba-coba narkoba.

Penelitian yang dilakukan Wood pada 1990-an merekam beberapa alasan mengapa remaja cenderung lebih berani mengambil risiko:

  • Cepat bosan dengan hidup sehari-hari.
  • Terpengaruh untuk mencari stimulasi ekstrem atau pengalaman yang berbeda daripada yang lain.
  • Tingginya impuls remaja mencari sensasi dan tuntutan terhadap kepuasan cepat dan sesaat.

Ketiga alasan itu sebenarnya berhubungan erat dengan reaksi psikologis atas stimulus yang diterima dari hal-hal berisiko atau ekstrem tersebut. Mereka juga menyatakan bahwa proses psikologis dalam melakukan olahraga ekstrem yang memompa adrenalin itu pada dasarnya sama dengan proses psikologis yang terjadi saat remaja mencoba narkoba. Itulah yang mereka sebut sebagai mendorong diri sampai 'menembus batas'.

Sebuah studi psikososiologi yang pernah dilakukan Lyng di awal 1990 secara konsisten menemukan bahwa banyak remaja melaporkan 'hadiah' yang mereka terima setelah berhasil 'menembus batas', yaitu mendapatkan rasa aktualisasi diri (self-actualization), kepercayaan diri (self-determination) dan pengenalan diri (self-realization).

Mengapa sebagian remaja mengaktualisasi diri dalam tatanan norma-norma yang ada atau dalam batasan kultur setempat, sedangkan sebagian remaja harus melakukannya di luar norma (deviasi)?

Lebih jauh, Wood mengatakan remaja justru mempertimbangkan kelakuan yang melenceng dari norma karena terbatasnya pilihan-pilihan atau outlet yang ada dalam kultur tersebut. Terbatasnya pilihan itu malah memberi rangsangan kepada remaja untuk memilih berkelakuan menyimpang atau deviasi.

Memang hal tersebut seakanakan bertentangan dengan teori pengambilan keputusan berdasarkan nalar atau rational choices dan teori detterence. Akan tetapi, hal itu tetap dilakukan remaja karena reward yang menanti dirasa jauh lebih menarik.

Peneliti Inggris lainnya, Barthold dan Hochmann—seperti yang juga disebut dalam Word Drug Report—tetap berpendapat bahwa remaja yang kecanduan untuk berperilaku ekstrem itu bukanlah hal yang wajar atau normal.

Teori mereka, addiction as extreme-seeking behavior lebih jauh mengemukakan, jika remaja mulai membiasakan diri mencari pengalaman yang ekstrem dalam kurun waktu yang pendek, keinginan itu akan berakhir menjadi adiksi kronis yang sulit untuk diobati. Adiksi itu mencakup adiksi terhadap berbagai hal, termasuk miras dan narkoba.

Dari mana datangnya niat
Tingginya rasa ingin tahu, menentang otoritas, dan menstimulasi rasa tertentu dan sampai kepada mencoba hal baru, membawa 'kenikmatan' dan risiko tersendiri pada kehidupan remaja.

Sebagai pencari tantangan dan pengambil risiko baru, remaja memiliki kemampuan bertahan yang rendah untuk melampaui ketidakstabilan emosi dan mental. Dalam memfasilitasi gejolak-gejolak baru itu, remaja cenderung akan lebih mudah 'jatuh'.

Pertanyaannya adalah, mengapa rasa ingin tahu remaja sering kali melampaui nalar mereka? Apa yang membuat mereka mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu yang berisiko tinggi?

Sebuah teori pengambilan keputusan yang dicetuskan Rosenstock (1974) menyatakan bahwa sebuah keputusan untuk berbuat sesuatu ditentukan besarnya niat (atau motivasi) yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

Niat itu tidak terlalu terpengaruh oleh pertimbangan nalar atau analisa untuk mengukur faktor untung-rugi sebuah tindakan tertentu. Niat juga tidak terlalu dipengaruhi persepsi terhadap bahaya penggunaan narkoba. Hal itu menciptakan sikap tertentu apalagi ketika dibarengi dengan adanya 'barang' dan tekanan atau persetujuan dari kelompok teman sebaya.

Mungkin istilah 'persetujuan teman sebaya' terasa asing di telinga ini. Oleh Sheppard, 'persetujuan teman sebaya' (peerapproval) dibedakan dari peer pressure (tekanan teman sebaya).

Menurut Coggans dan Mc Kellar (1994) anak yang sudah 'berniat' untuk mencoba (rokok, alkohol, atau narkoba) akan cenderung memilih dan mencari kelompok teman sebaya yang memiliki sikap dan belief system yang sama dengan dia. Biasanya, anak ini akan lebih nyaman untuk bereksperimen dengan narkoba setelah 'dukungan' teman sebaya yang mempunyai persepsi dan sikap serupa.

Pengamatan terhadap mereka yang memang 'berniat' untuk merokok menemukan hal serupa. Jika sudah ada niat, seseorang akan cenderung mencari lingkungan perokok pada saat pertama kalinya ingin mencoba rokok. Sebaliknya, mereka yang memang tidak ada niat untuk merokok tidak akan jadi perokok walaupun main di lingkungan perokok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar