Senin, 29 Maret 2010
Kamis, 03 September 2009
"KeKaSiH YaNg tAk sAmPaI"
Rabu, 27 Mei 2009
tANgGApAn nArKoBa dI kAlAnGAn mAsYaRkAt....

REMAJA paling rentan narkoba. Ini buktinya:
- Pengguna narkoba terbesar ada di kelompok usia 15-24 tahun (BNN, 2004). Menurut penelitian Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB, 2002), kelompok usia terbesar anak bereksperimen narkoba pertama kalinya adalah 12-17 tahun.
- Dari wawancara kualitatif yang dilakukan terhadap 672 pecandu yang dirawat di panti rehabilitasi di Jawa menyatakan bahwa usia 13-15 tahun adalah masa yang paling kritis bagi mereka untuk memulai memakai narkoba (YCAB, 2001).
- Dari 3,6 juta pecandu di Indonesia (hampir sekitar 1-1,5% penduduk), ada rata-rata 15 ribu orang meninggal akibat narkoba setiap tahunnya (BNN, 2005). Sebagian besar yang meninggal adalah kaum muda di bawah 30 tahun.
Ketidakstabilan emosi membawa depresi tersendiri bagi remaja. Apalagi, ketidaksinkronan persepsi dan harapan antara remaja dan orang tua yang mulai memuncak di masa ini sering mendatangkan sejumlah masalah dan ketegangan dalam keluarga.
Siapa memetik keuntungan dari itu semua? Bandar.
Masa transisi berisiko tinggi
Dari tahun ke tahun, data cukup konsisten menunjukkan bahwa kaum remaja adalah kelompok pangsa pasar terbesar bandar narkoba.
Dominasi pelanggan remaja menjanjikan bandar pasar yang cukup atraktif; menjanjikan pasar baru setiap hari karena proses pemasaran ala member-get-member di kalangan teman sebaya. Bagi pelanggan yang sudah kecanduan, menjanjikan ‘kesetiaan’ membeli. Bagi yang baru coba-coba, mereka setidaknya berharap diberikan sampel gratis.
Semua itu dimungkinkan berbagai faktor; mulai dari karakteristik biologis, psikologis, lingkungan sosial, dan budaya yang terjadi di masa remaja.
Dari sisi biologis, masa pubertas yang dialami remaja cenderung membawa dampak psikologis (mood, pencarian jati diri, dan lainlain), di samping dampak fisiologis (perubahan dalam tubuh dan pertumbuhan organ seksual).
Masa transisi yang terjadi di kala anak masuk ke jenjang SMP juga dipercayai banyak ahli sebagai masa paling kritis dalam hidup anak. Di jenjang itulah, anak mendapatkan banyak tantangan baru dalam hidupnya, tuntutan akademik, teman baru dan mungkin lingkungan sekolah baru.
Kedua hal itu dapat menyebabkan berubahnya karakter dasar dan sikap remaja, dari yang tadinya 'anak manis' menjadi individu yang berbeda dan tidak dapat diprediksi. Ada yang menjadi supermandiri seakan tidak perlu pendapat orang lain. Ada yang menjadi sangat tergantung pada teman. Tentu ada pula yang tumbuh menjadi individu yang mantap dan dewasa.
Dalam perjalanan hidup anak, di masa remaja inilah mereka mulai dihadapkan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang dapat menimbulkan berbagai tekanan. Menurut data konseling nasional di Amerika Serikat, seperti yang tertulis dalam buklet Parents: The Anti Drug (2004), remaja mengakui tekanan terbesar yang mereka hadapi sehari-hari adalah tekanan sosial untuk mencoba rokok, alkohol atau narkoba.
Tekanan sosial itu melebihi tekanan pergaulan atau kekerasan dalam keluarga yang mereka hadapi.
Data di beberapa kota besar di Indonesia pun menemukan hal yang serupa. Sayangnya, kita belum memiliki survei nasional dalam konteks ini.
Sumber kerentanan remaja
Transisi seorang anak menjadi dewasa membawa dinamika tertentu. Di masa transisi itu, para ahli seperti yang dikutip dalam World Drug Report (UNDCP, 1997) mencatat empat tujuan dasar remaja untuk mencoba-coba atau menggunakan narkoba, yakni:
- Untuk memenuhi keinginan akan sesuatu hal yang baru, seru, dan berisiko.
- Untuk menstimulasi rasa tertentu (termasuk memuaskan rasa penasaran, ingin merasakan sesuatu yang mengubah kesadaran, dan lain-lain).
- Untuk memfasilitasi 'kesetiakawanan' atau memberi 'arti sosial' tertentu ('jagoan', 'kompak', cool, dan lain-lain) dari sebuah hubungan pertemanan dengan kelompok tertentu. Hal itu dikenal pula dengan istilah peer pressure atau tekanan sebaya.
- Untuk mengatasi atau melupakan masalah atau perasaan.
'Karier' dalam menggunakan zat adiktif (rokok, miras, dan narkoba) akan cenderung meningkat dan sangat sulit untuk berhenti.
Data pecandu di 12 kota besar Indonesia (YCAB, 2001) menunjukkan bahwa sebagian besar pecandu memulai 'karier' mereka dengan merokok di usia antara 9-11 tahun. Bahkan, sebagian besar pecandu narkoba mengakui mencoba narkoba ketika mereka berusia di bawah 15 tahun.
Mengambil risiko itu seru!
Menurut Plant et al (1997), keberanian untuk mengambil risiko di kalangan remaja adalah hal yang lumrah. Hal itu merupakan salah satu cara seorang remaja untuk menemui identitas dan kemerdekaan diri serta untuk menjadi mandiri. Mengambil risiko juga dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan 'tiket' untuk diterima kelompok tertentu.
Jelaslah bahwa persepsi remaja tentang risiko dan risiko itu sendiri sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda. Ada remaja yang sering mengambil keputusan tanpa memperhitungkan dengan baik risiko atau konsekuensinya.
Sebaliknya, ada remaja yang karena tidak memiliki sense of risk menjadi cenderung bertindak semaunya karena risiko tidak berarti apa-apa bagi mereka.
Banyak remaja mengaku melakukan hal yang berisiko tinggi karena jika berhasil dilakukan, hal itu akan mendatangkan sensasi rasa high dan akan mengundang decak kagum teman-teman mereka. Remaja cenderung berpikir pendek untuk mulai melakukan hal yang mengandung risiko mulai dari melakukan olahraga ekstrem seperti terjun payung, memanjat tebing, sky diving, atau kebut-kebutan sampai mencoba-coba narkoba.
Penelitian yang dilakukan Wood pada 1990-an merekam beberapa alasan mengapa remaja cenderung lebih berani mengambil risiko:
- Cepat bosan dengan hidup sehari-hari.
- Terpengaruh untuk mencari stimulasi ekstrem atau pengalaman yang berbeda daripada yang lain.
- Tingginya impuls remaja mencari sensasi dan tuntutan terhadap kepuasan cepat dan sesaat.
Ketiga alasan itu sebenarnya berhubungan erat dengan reaksi psikologis atas stimulus yang diterima dari hal-hal berisiko atau ekstrem tersebut. Mereka juga menyatakan bahwa proses psikologis dalam melakukan olahraga ekstrem yang memompa adrenalin itu pada dasarnya sama dengan proses psikologis yang terjadi saat remaja mencoba narkoba. Itulah yang mereka sebut sebagai mendorong diri sampai 'menembus batas'.
Sebuah studi psikososiologi yang pernah dilakukan Lyng di awal 1990 secara konsisten menemukan bahwa banyak remaja melaporkan 'hadiah' yang mereka terima setelah berhasil 'menembus batas', yaitu mendapatkan rasa aktualisasi diri (self-actualization), kepercayaan diri (self-determination) dan pengenalan diri (self-realization).
Mengapa sebagian remaja mengaktualisasi diri dalam tatanan norma-norma yang ada atau dalam batasan kultur setempat, sedangkan sebagian remaja harus melakukannya di luar norma (deviasi)?
Lebih jauh, Wood mengatakan remaja justru mempertimbangkan kelakuan yang melenceng dari norma karena terbatasnya pilihan-pilihan atau outlet yang ada dalam kultur tersebut. Terbatasnya pilihan itu malah memberi rangsangan kepada remaja untuk memilih berkelakuan menyimpang atau deviasi.
Memang hal tersebut seakanakan bertentangan dengan teori pengambilan keputusan berdasarkan nalar atau rational choices dan teori detterence. Akan tetapi, hal itu tetap dilakukan remaja karena reward yang menanti dirasa jauh lebih menarik.
Peneliti Inggris lainnya, Barthold dan Hochmann—seperti yang juga disebut dalam Word Drug Report—tetap berpendapat bahwa remaja yang kecanduan untuk berperilaku ekstrem itu bukanlah hal yang wajar atau normal.
Teori mereka, addiction as extreme-seeking behavior lebih jauh mengemukakan, jika remaja mulai membiasakan diri mencari pengalaman yang ekstrem dalam kurun waktu yang pendek, keinginan itu akan berakhir menjadi adiksi kronis yang sulit untuk diobati. Adiksi itu mencakup adiksi terhadap berbagai hal, termasuk miras dan narkoba.
Dari mana datangnya niat
Tingginya rasa ingin tahu, menentang otoritas, dan menstimulasi rasa tertentu dan sampai kepada mencoba hal baru, membawa 'kenikmatan' dan risiko tersendiri pada kehidupan remaja.
Sebagai pencari tantangan dan pengambil risiko baru, remaja memiliki kemampuan bertahan yang rendah untuk melampaui ketidakstabilan emosi dan mental. Dalam memfasilitasi gejolak-gejolak baru itu, remaja cenderung akan lebih mudah 'jatuh'.
Pertanyaannya adalah, mengapa rasa ingin tahu remaja sering kali melampaui nalar mereka? Apa yang membuat mereka mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu yang berisiko tinggi?
Sebuah teori pengambilan keputusan yang dicetuskan Rosenstock (1974) menyatakan bahwa sebuah keputusan untuk berbuat sesuatu ditentukan besarnya niat (atau motivasi) yang melatarbelakangi keputusan tersebut.
Niat itu tidak terlalu terpengaruh oleh pertimbangan nalar atau analisa untuk mengukur faktor untung-rugi sebuah tindakan tertentu. Niat juga tidak terlalu dipengaruhi persepsi terhadap bahaya penggunaan narkoba. Hal itu menciptakan sikap tertentu apalagi ketika dibarengi dengan adanya 'barang' dan tekanan atau persetujuan dari kelompok teman sebaya.
Mungkin istilah 'persetujuan teman sebaya' terasa asing di telinga ini. Oleh Sheppard, 'persetujuan teman sebaya' (peerapproval) dibedakan dari peer pressure (tekanan teman sebaya).
Menurut Coggans dan Mc Kellar (1994) anak yang sudah 'berniat' untuk mencoba (rokok, alkohol, atau narkoba) akan cenderung memilih dan mencari kelompok teman sebaya yang memiliki sikap dan belief system yang sama dengan dia. Biasanya, anak ini akan lebih nyaman untuk bereksperimen dengan narkoba setelah 'dukungan' teman sebaya yang mempunyai persepsi dan sikap serupa.
Pengamatan terhadap mereka yang memang 'berniat' untuk merokok menemukan hal serupa. Jika sudah ada niat, seseorang akan cenderung mencari lingkungan perokok pada saat pertama kalinya ingin mencoba rokok. Sebaliknya, mereka yang memang tidak ada niat untuk merokok tidak akan jadi perokok walaupun main di lingkungan perokok.
Sabtu, 28 Maret 2009
"sArAn saya terhadap hari bumi itu "?????????
karna dengan menjaga lingkungan kita dari pencemaran dan kerusakan secara tidak langsun kita telah menyelamatkan anak cucu kita dari penderitaan,sebab bumi yang kita tempati bukan warisan nenek moyang tapi pinjaman dari anak cucu kita.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
hanya saran itu yang bisa saya sampaikan????????????????????
ManFaaT hArI buMi,BaGi kTa SmuA?????????

pohon,apa manfaat bagi pohon??????????
Mengapa Penghijauan perlu diperhatikan dan harus tetap dilaksanakan ? Mengapa Pepohonan harus ditanam kembali dan dijaga kelestariannya ? Karena Pohon adalah makhluk hidup yang tidak bisa berjalan tetapi memberikan peran yang signifikan bagi makhluk yang berjalan.
Ada penciptaan yang nyata pada pohon. Sel-sel yang menyusun pohon tertata sedemikian agar membentuk akar, batang, kulit kayu, buluh air, cabang, dan daun. Sel-sel itu membentuk bagian-bagian yang membuat pohon bertahan hidup dengan melakukan fungsi-fungsi penting. Ada suatu pembagian kerja yang tertata dan terencana di antara bagian-bagian itu.
Sebatang pohon menyerupai sebuah pabrik kimia raksasa. Proses-proses kimia yang sangat rumit dijalankan dengan menimbang urut-urutan yang tanpa cela. Ada bukti bahwa organ-organ yang menjalankan proses-proses ini melakukan perhitungan bagaikan seperangkat komputer.
Dengan memperhatikan salah satu ayat pada kitab suci Al-Quran :
“Dan Allah telah meninggikan langit dan meletakkan neraca (keseimbangan).” (QS Ar Rahman [55]:7)
Dari sebuah kajian penelitian, secara sederhana dapat disimpulkan semakin tinggi pohon yang tumbuh subur diatas tanah akan semakin memberi manfaat yang lebih di antaranya adalah: (a) Menghasilkan oksigen 1,2 kg/pohon/hari, (b) Membuat teduh/sejuk, menyerap panas 8x lebih banyak, (c) Menjaga kelembaban, menguapkan 3/4 air hujan ke atmosfir, (d) Menyerap debu, (e) Mengundang burung (f) Membuat keindahan.
Sementara itu fungsi pohon di bawah tanah di antaranya adalah: (a) Menyerapkan air ke tanah, (b) Mengikat butir-butir tanah, (c) Mengikat air di pori tanah dengan kapilaritas dan tegakan permukaan.
MaKna HaRi bUmI?????????

ASAL - MUASAL DAN MAKNA HARI BUMI 22 APRIL
ASAL - MUASAL HARI BUMI
Hari Bumi yang diperingati pada tanggal 22 April setiap tahunnya menandai hari jadi lahirnya sebuah perubahan pergerakan kepedulian terhadap lingkungan pada tahun 1970.
Hari Bumi lahir atas prakarsa seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson. Saat itu ia melakukan protes secara nasional terhadap kalangan politik terkait permasalahan lingkungan.
Ia mendesak agar isu-isu tersebut dimasukkan dalam agenda nasional.
Perjuangan Gaylord Nelson dimulai sekitar lebih dari 7 tahun sebelum Hari Bumi pertama.
Pada awalnya Gaylord berharap pemikirannya tercapai melalui kunjungan yang dilakukan presiden Kennedy ke sebelas negara bagian pada September 1963, namun dengan beberapa alasan kunjungan tersebut tidak mampu membawa isu lingkungan ke dalam agenda nasional.
Upaya terus dilakukan Gaylord untuk merealisasikan idenya.
Setelah tur Kennedy, Gaylord melakukan kampanyenya sendiri ke beberapa negara bagian.
Di seluruh pelosok negara, bukti penurunan kualitas lingkungan terjadi di mana-mana.
Semua orang menyadarinya, kecuali kalangan politik.
Akhirnya pada musim panas 1969 Gaylord mengetahui bahwa aksi demonstrasi anti-perang vietnam telah menyebar secara luas melalui perguruan tinggi di seluruh negeri.
Dari sana ia mendapat ide untuk melakukan hal yang sama dalam kempanye lingkungannya.
Ia memilih kalangan bawah dalam melakukan aksi protes terhadap kerusakan lingkungan.
Pada sebuah konferensi di Seattle September 1969, Gaylord mengumumkan akan mengadakan demonstrasi secara nasional pada musim semi 1970 atas nama lingkungan dan setiap orang diundang untuk berpartisipasi.
Setelah itu, berbagai surat, telegram, dan telepon mengalir dari seluruh negeri.
Warga Amerika akhirnya menemukan sebuah forum untuk mengungkapkan kepeduliannya atas penurunan kualitas tanah, sungai, danau, dan udara di lingkungan mereka.
Pada 30 November 1969 New York Times melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas kepedulian terhadap lingkungan di seluruh negeri terutama di kampus-kampus dan suatu hari untuk peringatan permasalahan lingkungan tengah dirancang untuk untuk musim semi mendatang yang dikoordinasi oleh Senator Gaylord Nelson.
Hal ini menjadi bukti keberhasilan perjuangan Gaylord Nelson dalam mengedepankan isu lingkungan sebagai agenda nasional.
Pada tanggal 22 April 1970, akhirnya sekitar 20 juta warga Amerika turun ke jalanan serta memenuhi sejumlah taman dan auditorium untuk mengkampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan.
Ribuan mahasiswa berkumpul menentang kerusakan lingkungan. Kelompok-kelompok yang sudah sejak lama menentang adanya tumpahan minyak di lingkungan, pabrik-pabrik dan pembangkit listrik penyebab polusi, buruknya saluran pembuangan, pembuangan bahan-bahan berbahaya, pestisida, jalan raya, hilangnya hutan belantara, serta semakin punahnya kehidupan liar menyadari adanya kebersamaan atas perjuangan mereka dari masyarakat.
Lahirnya KTT Bumi 1992
Hari Bumi pada tahun 1970 telah menghasilkan persatuan kalangan politik yang sebenarnya jarang terjadi, yang berasal dari kaum republik maupun demokrat, dan berbagai pencampuran kalangan lainnya.
Hari Bumi pertama menjadi awal terbentuknya United States Environmental Protection Agency/US EPA (sebuah badan perlindungan lingkungan Amerika) dan juga sebagai langkah awal menuju lingkungan dengan udara dan air yang bersih, serta perlindungan terhadap mahkluk hidup.
Pada tahun 1990, peringatan Hari Bumi mulai berkembang secara global.
Sekitar 200 juta orang dari 141 negara di dunia tergerak untuk mengangkat isu lingkungan dalam skala global.
Hari Bumi 1990 pun menjadi titik tolak terlaksananya KTT Bumi 1992 di Rio de Janeiro.
Tahun 2000 Hari Bumi mendapat bantuan dengan adanya internet untuk menghubungkan para aktivis di seluruh dunia.
Pada tanggal 22 April sekitar 5000 kelompok pemerhati lingkungan di seluruh dunia merangkul ratusan juta penduduk di 184 negara yang menjadi rekor baru untuk mengkampanyekan Hari Bumi.
Berbagai kegiatan diselenggarakan secara bervariasi mulai dari rantaian suara genderang dari desa ke desa di Gabon, Afrika hingga ratusan ribu warga yang berkumpul di National Mall, Washington D.C., Amerika Serikat.
Hari Bumi 2000 secara keras dan jelas menyerukan pesan bahwa penduduk dunia menginginkan tindakan yang cepat dan tegas untuk penggunaan energi yang bersih dan ramah lingkungan.
MAKNA HARI BUMI
Perjuangan untuk mencapai lingkungan yang bersih tetap berlangsung hingga sekarang. Melalui Hari Bumi 2007 mendatang dengan tema “Sebuah Seruan untuk Tindakan dalam Perubahan Iklim�, Hari Bumi mengajak setiap orang untuk menjadi bagian dari sejarah dan Hari Bumi.
Hari Bumi menyerukan penduduk dunia untuk menemukan energi yang kita miliki namun belum kita ketahui.
Dengan menggabungkannya dengan teknologi diharapkan dapat menuju tercapainya pembangunan dunia yang bersih dan sehat untuk generasi yang akan datang.
Peduli pada lingkungan dan masa depan anak cucu anda? Mari berperan aktif melakukan hal kecil untuk memperbaiki perubahan iklim dan membantu menyelamatkan masa depan bumi.
Jumat, 20 Maret 2009
"pUiSi yAng TlaH DibWaT OleH IbU kArTiNI"
Elok rupa dan mempesona
Ibuku, pembela keluarga
Arif dan bijaksana
Ibu kita Kartini, jasamu di kenang sepanjang masa
Ibuku, tidak mengharap balas jasa
Ibu kita Kartini
Anak bangsa mengiringimu dengan Do’a
Ibuku, menggambarkan ”Syurga”
Ibu kita Kartini, adalah wanita sempurna
Ibuku, membuatku menatap dunia
Keduanya adalah ”I BU N D A”
Wanita mulia yang telah melahirkan kita
Asalmuasal Adam dan Hawa
Ibunda, akan merasa bangga
Apabila penerusnya tidak lupa
Akan kodratnya dari Sang Pencipta
Sebagai ibu dari Anak atau Anak-anaknya
Dan sebagai istri dari bapaknya anak-anak
Janganlah penyetaraan gender membuat wanita lupa
Akan bahasa dan tata krama
Semoga para wanita Indonesia dapat menjadi ibunda sesungguhnya.
